Hari Kartini 2026

Hari Kartini 2026

Setiap tahun, Hari Kartini mengingatkan kita bahwa perubahan sering dimulai dari satu orang yang berani dan percaya bahwa masa depan bisa menjadi lebih baik.

Di Desa Ramma Dana, Sumba Barat Daya, semangat itu hidup dalam sosok Paulina Leda Bulu (47), Kepala Sekolah TK St. Arnoldus Janssen.

Bagi Ibu Paulina, sekolah bukan sekadar tempat anak-anak belajar membaca atau berhitung. Sekolah adalah ruang aman tempat anak-anak bisa bermain dengan bebas, belajar dengan nyaman, dan tumbuh dengan rasa percaya diri.

Namun perjalanan menuju hal itu tidak selalu mudah.

Di komunitasnya, banyak anak yang belum mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan sejak usia dini. Sebagian orang tua belum memahami pentingnya pendidikan anak usia dini karena keterbatasan pengetahuan dan akses informasi.

Di sisi lain, kekerasan terhadap anak masih menjadi tantangan yang nyata. Banyak orang tua di desa ini tumbuh dengan pola asuh yang percaya bahwa mendidik anak dengan kekerasan adalah cara agar anak menjadi patuh.

Kondisi ekonomi juga memberi tekanan tersendiri bagi keluarga. Sekitar 80% orang tua di Desa Ramma Dana bekerja sebagai petani, dengan penghasilan yang tidak selalu pasti. Dalam beberapa situasi, ketika anak meminta sesuatu yang belum mampu dipenuhi, konflik dalam keluarga bisa terjadi.

Melihat kondisi tersebut, Ibu Paulina merasa bahwa sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat belajar. Sekolah harus menjadi bagian dari solusi bagi komunitasnya.

Ia mulai mengadakan kelas pengasuhan bagi para orang tua, membahas tentang hak-hak anak, pencegahan kekerasan terhadap anak, serta pentingnya pendidikan sejak usia dini.

Dalam pertemuan-pertemuan sederhana itu, perlahan para orang tua mulai memahami bahwa anak-anak mereka berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh dukungan.

Tidak hanya di sekolah, Ibu Paulina juga berkeliling ke berbagai dusun di Desa Ramma Dana untuk melakukan kampanye tentang perlindungan anak dan pentingnya pendidikan anak usia dini.

Namun bagi Ibu Paulina, membantu anak-anak berarti juga memberi mereka kesempatan kedua.

Untuk anak-anak yang telah putus sekolah, ia menghadirkan ruang baru melalui Rumah Kreatif Anak Sabana.

Di tempat ini, anak-anak dibimbing untuk mengembangkan berbagai keterampilan praktis. Dari keterampilan tersebut, mereka belajar menghasilkan produk yang dapat dijual, sehingga perlahan mereka dapat memperoleh penghasilan sendiri dan membangun kembali rasa percaya diri mereka.

Selain itu, anak-anak usia SD hingga SMP juga didampingi melalui program Pendidikan Kecakapan Hidup dan Literasi Keuangan (PKHLK). Dalam program ini, mereka belajar tentang hak dan kewajiban anak, perlindungan anak, serta bagaimana mengelola keuangan sederhana termasuk menabung dari uang jajan mereka sedikit demi sedikit untuk membantu memenuhi kebutuhan sekolah mereka.

Upaya-upaya ini semakin kuat dengan dukungan program peningkatan kepemimpinan sekolah dari Happy Hearts Indonesia, yang membantu sekolah memperkuat manajemen berbasis sekolah serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan ramah anak.

Bersama para guru, orang tua, dan masyarakat, sekolah juga terus dijaga agar tetap menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak. Orang tua ikut terlibat merawat fasilitas sekolah, menata taman bermain, serta mengajak lebih banyak keluarga untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke PAUD.

Perubahan mulai terasa.

Semakin banyak anak kini dapat mengakses pendidikan usia dini. Pengelolaan sekolah menjadi lebih transparan, dan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sekolah semakin meningkat.

Dedikasi Ibu Paulina akhirnya mendapat pengakuan secara nasional. Ia direkomendasikan oleh Bupati Sumba Barat Daya untuk mengikuti nominasi penghargaan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Pada tahun 2025, ia menerima Anugerah KPAI sebagai Profesi Peduli Anak di studio TVRI JakartaNamun bagi Ibu Paulina, penghargaan terbesar bukanlah panggung atau piagam.

Namun bagi Ibu Paulina, penghargaan terbesar bukanlah panggung atau piagam.

Penghargaan terbesarnya adalah melihat anak-anak datang ke sekolah dengan wajah ceria dan semangat belajar.

Salah satu orang tua murid, Martha Riti, merasakan perubahan itu secara langsung.
“Saya merasa sangat senang dan bersyukur dengan bantuan dari Happy Hearts Indonesia. Anak saya yang sebelumnya sering malas datang ke sekolah sekarang menjadi rajin. Ia merasa nyaman bermain dan belajar karena ruangannya ramah anak. Saya juga sekarang lebih terlibat dalam kegiatan sekolah.”

Kisah Ibu Paulina menunjukkan bahwa semangat Kartini tidak hanya hidup dalam sejarah. Ia hadir dalam langkah-langkah kecil perempuan yang setiap hari memperjuangkan masa depan anak-anak di komunitasnya.

Dan berkat dukungan kamu, lebih banyak anak kini memiliki kesempatan untuk belajar, tumbuh dengan aman, dan bermimpi tentang masa depan yang lebih baik.

Hari Kartini 2026

Read in English Setiap tahun, Hari Kartini mengingatkan kita bahwa perubahan sering dimulai dari satu orang yang berani dan percaya...Read More