Bayangkan harus tetap fokus mengerjakan ujian saat menahan nyeri menstruasi yang menyiksa. Yang lebih sulit lagi, ketika harus keluar dari lingkungan sekolah dan mengetuk pintu rumah warga hanya untuk menumpang menggunakan toilet.
Selama bertahun-tahun, itulah kenyataan yang dihadapi para siswi di SMA Kristen Air Hidup, Sumba, Nusa Tenggara Timur.
Hari ini, suasananya sudah jauh berbeda. Anak-anak belajar di ruang kelas yang nyaman, memiliki akses air bersih, dan bisa fokus menuntut ilmu tanpa harus mengkhawatirkan kebutuhan paling dasar mereka. Namun di balik perubahan itu, ada kisah seorang perempuan muda yang pernah merasakan kedua keadaan tersebut.

Namanya Destriyati.
Pada Januari 2026, ia kembali ke SMA Kristen Air Hidup. Bukan lagi sebagai murid, melainkan sebagai guru.
Bagi banyak anak muda, lulus kuliah sering kali menjadi alasan untuk meninggalkan kampung halaman demi mencari kehidupan yang lebih baik. Namun bagi Destriyati, pendidikan bukanlah jalan untuk pergi jauh. Justru sebaliknya, pendidikan membawanya pulang. Ia masih mengingat jelas masa-masa ketika dirinya duduk di ruang kelas sederhana beratapkan alang-alang.
“Hal yang paling saya ingat adalah suara hujan yang menghantam atap itu,” kenangnya sambil tersenyum. “Suaranya sangat keras sampai sering kali menenggelamkan suara guru yang sedang mengajar.”
Saat itu, Destriyati merupakan satu dari 14 murid angkatan pertama SMA Kristen Air Hidup. Ketika musim hujan datang, kegiatan belajar sering kali terhenti karena siswa dan guru harus bersama-sama membuang air yang masuk ke dalam kelas. Aroma tanah basah dan dinding bambu yang lembap sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Namun, kondisi ruang kelas hanyalah sebagian dari perjuangan mereka.
Setiap pagi, Destriyati harus berjalan hampir dua kilometer melewati jalanan yang rusak dan berdebu untuk sampai ke sekolah tepat waktu. Beberapa teman sekelasnya menghadapi tantangan yang lebih berat lagi.
Mereka berasal dari Sumba Tengah, sekitar 46 kilometer dari sekolah, sehingga harus tinggal bersama kerabat yang rumahnya lebih dekat.
“Mereka bangun lebih pagi untuk membantu pekerjaan rumah, memasak, mencuci piring, dan melakukan berbagai pekerjaan lainnya sebelum berangkat sekolah,” cerita Destriyati. “Banyak yang sebenarnya sangat rindu rumah. Ada yang menangis diam-diam karena ingin bertemu orang tuanya.” Tidak sedikit yang akhirnya menyerah.
Bagi banyak keluarga, pendidikan masih terasa seperti sesuatu yang sulit dijangkau. Keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab keluarga membuat sebagian anak terpaksa meninggalkan sekolah sebelum lulus.
Meski begitu, Destriyati dan teman-temannya memilih untuk bertahan.
Bahkan cibiran yang mereka terima dari masyarakat sekitar justru membuat mereka semakin kuat.
“Banyak yang bilang sekolah kami tidak bagus atau terlalu banyak aturan,” ujarnya. “Tapi kami ingin membuktikan bahwa kami bisa lulus dan meraih masa depan yang lebih baik.”

Di tengah semua tantangan itu, ada satu masalah lain yang memengaruhi hampir seluruh kehidupan sekolah.
Sekolah tidak memiliki akses air bersih yang memadai.
Tanpa sumber air sendiri, sekolah harus membeli pasokan air menggunakan tangki dengan biaya sekitar Rp300.000 setiap kali pengisian. Saat persediaan habis, siswa harus mengambil air dari pastori gereja terdekat.
Bagi para siswi, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar kesulitan mendapatkan air.
“Saat air habis, terutama ketika kami sedang menstruasi, kami benar-benar tidak punya pilihan,” kenang Destriyati. “Kami harus meminta izin keluar sekolah lalu menumpang menggunakan toilet milik warga.”
Meski warga tersebut selalu bersikap baik, pengalaman itu tetap terasa tidak nyaman.
“Rasanya malu dan sungkan. Tapi kami tidak punya pilihan lain. Bagi kami, ini bukan sekadar soal toilet, tetapi tentang menjaga kebersihan diri dan harga diri kami sebagai perempuan.”
Beberapa siswi memilih pulang lebih awal karena merasa tidak nyaman. Ada juga yang melewatkan pelajaran karena tidak sanggup menghadapi situasi tersebut.
Pengalaman itulah yang membuat Destriyati memahami satu hal penting.
“Air bersih bukan sekadar kebutuhan tambahan. Air bersih adalah kebutuhan dasar yang sangat memengaruhi proses belajar anak-anak.”
Di luar sekolah, kehidupan masyarakat juga tidak mudah.
Sebagian besar keluarga menggantungkan hidup dari bertani jagung atau beternak ayam dan babi. Ketika hasil panen menurun atau harga ternak jatuh, biaya pendidikan menjadi salah satu beban yang paling berat.
Namun perlahan, keadaan mulai berubah.
Berkat dukungan para donatur dan yayasan, sekolah mulai menyediakan beasiswa penuh bagi siswa berprestasi. Program ini memberi harapan baru bagi banyak keluarga yang sebelumnya kesulitan membiayai pendidikan anak-anak mereka. Hingga hari ini, operasional sekolah dan berbagai fasilitas yang ada terus didukung oleh para donatur dan Happy Hearts Indonesia.
Di tengah segala keterbatasan yang pernah ia alami, ada satu hal yang selalu membekas dalam ingatan Destriyati: para gurunya.
Mereka tetap mengajar dengan penuh semangat meskipun harus menghadapi berbagai keterbatasan setiap hari.
“Ketika melihat bapak dan ibu guru mengajar dengan sepenuh hati, di situlah mimpi saya mulai tumbuh,” katanya.
“Saya berjanji pada diri sendiri, kalau suatu hari berhasil, saya harus kembali ke sekolah ini.”
Janji itu akhirnya ia tepati.
Setelah menyelesaikan kuliahnya dan lulus pada 13 Desember 2025,
Destriyati memutuskan untuk pulang dan mengabdi di sekolah yang telah membentuk dirinya.

Saat kembali, ia menemukan banyak hal telah berubah.
Dengan dukungan Happy Hearts Indonesia dan para donatur, ruang-ruang kelas baru telah berdiri. Lingkungan belajar menjadi jauh lebih nyaman dan aman. Yang paling penting, sekolah kini memiliki sumur bor yang menyediakan akses air bersih secara berkelanjutan.
Perubahan itu langsung terasa.

“Bedanya jauh sekali, seperti bumi dan langit,” kata Destriyati.
Anak-anak tidak lagi khawatir kehabisan air. Mereka bisa mencuci tangan, menggunakan toilet dengan nyaman, dan mengikuti pelajaran tanpa gangguan.
Tingkat kehadiran siswa kini hampir mencapai 100 persen. Dana yang sebelumnya habis untuk membeli air juga dapat digunakan untuk kebutuhan sekolah lainnya,
seperti memperbaiki fasilitas dan menyediakan perlengkapan belajar.
“Dulu kami hanya berusaha bertahan. Sekarang kami bisa memikirkan bagaimana caranya berkembang.”

Perubahan itu juga terlihat dari semangat belajar anak-anak. Perpustakaan baru menjadi salah satu tempat favorit mereka. Saat jam istirahat, ruangan itu hampir selalu dipenuhi siswa yang membaca buku atau mengerjakan tugas.
Para guru juga melihat peningkatan yang signifikan dalam prestasi akademik.
“Dengan fasilitas yang lebih baik, anak-anak jadi lebih bersemangat belajar. Nilai mereka juga meningkat dan itu membuat kami sangat bangga.”
Namun bagi Destriyati, perubahan terbesar bukanlah gedung baru atau fasilitas yang lebih baik.
Perubahan terbesar terlihat dari mimpi anak-anak.
“Dulu banyak anak hanya membayangkan menjadi petani seperti orang tua mereka,” katanya. “Sekarang jawabannya jauh lebih beragam.”
Ada yang ingin menjadi guru.
Ada yang bercita-cita menjadi perawat, insinyur, polisi, dan berbagai profesi lain yang sebelumnya terasa begitu jauh dari jangkauan mereka.

Saat berdiri di depan kelas hari ini, Destriyati melihat sesuatu yang dulu jarang ia rasakan sebagai murid.
Ia melihat anak-anak yang datang ke sekolah dengan semangat. Anak-anak yang bisa belajar tanpa harus mengkhawatirkan kebutuhan dasar mereka. Anak-anak yang berani memimpikan masa depan yang lebih besar.
“Bedanya memang seperti bumi dan langit,” ujarnya.
Anak-anak tidak lagi khawatir kehabisan air. Mereka bisa mencuci tangan, menggunakan toilet dengan nyaman, dan mengikuti pelajaran tanpa gangguan.
Dan bagi anak-anak Sumba, masa depan itu kini terasa jauh lebih dekat.




















