Tangan Kecil, Hati yang Besar
Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Anak Usia Tiga Tahun tentang Kebaikan?

Siapa bilang memberi hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa? Di SUKU Preschool Permata Hijau, anak-anak berusia tiga hingga lima tahun membuktikan bahwa kepedulian dapat tumbuh sejak usia dini.

Dengan senyum lebar, mereka menyambut setiap pengunjung dengan penuh antusias sambil memperkenalkan berbagai hasil karya yang mereka buat untuk acara tersebut. Hari itu, mereka belajar bahwa berbagi bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan tentang kemauan untuk peduli kepada sesama.

Pada 12–13 Juni 2026, Happy Hearts Indonesia (HHI) berkesempatan menyaksikan semangat tersebut secara langsung melalui Kindness Market, sebuah acara tahunan SUKU Preschool yang mempertemukan anak-anak, guru, dan orang tua untuk merayakan semangat berbagi, empati, dan kebersamaan.

Belajar Berbagi Lewat Pengalaman Langsung

Sebelum Kindness Market dimulai, anak-anak diajak mengenal kisah Rangga, seorang anak yang belum memiliki lingkungan belajar yang layak. Dari cerita itu, mereka memahami bahwa tindakan sederhana yang mereka lakukan hari itu dapat membantu anak-anak seperti Rangga belajar di tempat yang lebih aman dan nyaman. Tak heran, beberapa dari mereka dengan bangga berkata kepada para pengunjung, “Ini untuk Rangga.”

Bagi orang dewasa, mungkin acara ini tampak seperti kegiatan jual beli biasa. Namun bagi anak-anak, setiap senyum, sapaan, dan percakapan menjadi kesempatan untuk belajar berbagi, bekerja sama, dan peduli kepada orang lain.

Semangat berbagi juga hadir dari seluruh komunitas sekolah. Sementara para guru mendampingi anak-anak sepanjang acara, orang tua turut menyumbangkan berbagai barang layak pakai untuk dijual dalam garage sale. Setiap pembelian membantu menggalang dana untuk mendukung pembangunan ruang belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak di berbagai daerah di Indonesia.

Ibu Melda, salah satu guru di SUKU Preschool, percaya bahwa Kindness Market bukan sekadar kegiatan tahunan. Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat merasakan secara langsung nilai-nilai yang mereka pelajari di sekolah.

“Tahun ini, Kindness Market mengusung tema ‘From Community to Community’. Kami ingin anak-anak merasakan sendiri bagaimana rasanya membuat sesuatu, membagikannya kepada orang lain, dan melihat bahwa hal sederhana yang mereka lakukan bisa membawa manfaat. Orang tua juga ikut ambil bagian sehingga anak-anak melihat bahwa berbagi adalah sesuatu yang dilakukan bersama sebagai sebuah komunitas,” jelas Ibu Melda.

Semangat From Community to Community benar-benar terasa sepanjang acara. Anak-anak, guru, dan orang tua saling mendukung, membuktikan bahwa kebaikan akan terasa semakin besar ketika dilakukan bersama.

Di SUKU Preschool, empati menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses tumbuh kembang anak.

“Membaca dan menulis memang penting, tetapi anak-anak juga perlu belajar berempati. Kami percaya rasa peduli perlu ditanamkan sejak dini. Lewat hal-hal sederhana seperti berbagi mainan atau membantu teman, mereka belajar memperhatikan orang-orang di sekitarnya,” jelas Ibu Melda.

Melalui Kindness Market, empati tidak hanya diajarkan, tetapi juga dialami secara langsung. Anak-anak menyadari bahwa tindakan kecil yang mereka lakukan dapat membawa harapan dan membuka kesempatan bagi anak-anak lain.

Dan dampaknya tidak berhenti di sana. Setiap pembelian, setiap percakapan, dan setiap bentuk kepedulian yang hadir selama Kindness Market membantu Happy Hearts Indonesia menghadirkan lebih banyak ruang belajar yang aman dan nyaman bagi anak-anak di berbagai penjuru Indonesia.

Lebih dari Sekadar Ruang Kelas

Sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca atau berhitung. Di sanalah anak-anak membangun rasa percaya diri, menjalin persahabatan, menemukan minat baru, dan mulai memupuk mimpi tentang masa depan mereka. Mewujudkan lingkungan belajar seperti itu tentu membutuhkan ruang kelas yang aman. Namun, yang tak kalah penting adalah dedikasi para guru yang terus menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna setiap hari.

Bagi Ibu Melda, ruang belajar yang aman dan nyaman memang penting. Namun, yang sama pentingnya adalah semangat guru untuk terus mendampingi anak-anak belajar, apa pun tantangan yang dihadapi.

“Guru akan selalu menemukan cara untuk mengajar, meskipun fasilitasnya terbatas. Kalau ruang belajar yang layak belum tersedia, masih banyak hal di sekitar yang bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu mengajar. Alam pun bisa menjadi ruang belajar. Namun, ruang kelas yang aman dan nyaman tetap sangat penting karena membantu menumbuhkan semangat dan motivasi anak-anak untuk belajar setiap hari. Di tengah keterbatasan, guru dituntut untuk melihat melampaui keadaan dan lebih kreatif memanfaatkan apa pun yang ada di sekitarnya,” ujar Ibu Melda.

Ucapan Ibu Melda mengingatkan kita bahwa sebesar apa pun dedikasi seorang guru, setiap anak tetap berhak belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung mereka untuk berkembang.

Komunitas SUKU Preschool menunjukkan bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk belajar, tetapi juga tempat menumbuhkan empati, kepedulian, dan semangat kebersamaan.

Apa yang berawal dari tangan-tangan kecil di Kindness Market kini menghadirkan kesempatan yang jauh lebih besar: membantu lebih banyak anak di Indonesia belajar di ruang kelas yang aman, nyaman, dan penuh harapan.

Berkat kemurahan hati seluruh komunitas SUKU Preschool, lebih banyak anak akan memiliki kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan membangun masa depan yang lebih cerah.

Karena pada akhirnya, perubahan tidak ditentukan oleh seberapa besar tindakan yang kita lakukan, melainkan oleh ketulusan hati di baliknya.

Dan di Kindness Market, pelajaran itu datang dari tangan-tangan kecil dengan hati yang begitu besar.

Hari Kartini 2026

Read in English Setiap tahun, Hari Kartini mengingatkan kita bahwa perubahan sering dimulai dari satu orang yang berani dan percaya...Read More